Rabu, 16 September 2015

50 : 50


"Bagaimana jika kita mencintai seseorang yang tak dapat dimiliki ?
Maka orang tersebut akan ku ibaratkan seperti kotak hadiah. Hanya sebagai rasa terima kasih jika aku membukanya satu kali. Jika kotak tersebut datang lagi, maka semuanya akan terus berulang. Jika aku kembali membukanya untuk yg kedua kali, maka itu adalah kesedihan. Lalu yang ketiga kali adalah luka, Dan setelah terbuka lagi dan lagi sampai menjadi hancur, maka seperti itulah bagaimana satu hati menjadi terkoyak. Dan aku membiarkannya hingga tidak terasa sakit lagi."






Dihari yang lalu, kami kembali berpisah. Lagi dan lagi. Seolah ketakutan telah mengambil alih semua logika. Ya, aku dan dia sempat berusaha menyudahi segalanya untuk yang kesekian kalinya. Akan tetapi, bagai air yang mengalir, seperti siklus alam ketika hujan turun membasahi bumi, kemudian menguap dipermukaan lautan, menjadi gumpalan awan, hingga awan tersebut menjadi butiran air yang jatuh kembali menyapa bumi. Begitulah bagaimana hati ini luluh dengan ribuan cara tak terduga untuk menyatukan kepingan kenangan. Sekali lagi aku membiarkannya masuk dalam kehidupanku.

Meski aku mengetahui hal ini tak akan bertahan lama, aku mencoba untuk menikmatinya. Pikirku, tak terlalu buruk jika mencoba menjalin suatu pertemanan. Karena aku mengenalnya secara baik-baik, toh tak ada alasan hingga aku harus mengakhiri semuanya secara buruk. Namun, tak ada perpisahan yang berjalan mulus bukan? Sedikit banyaknya mereka akan meninggalkan goresan kecil dalam memori. Memang, ada segelintir orang yang dapat mengatasinya secara bijak. Yah, sebetulnya kalau boleh jujur. Aku masih menjalin hubungan baik dengan beberapa orang di masa lalu. Entah hanya untuk sekedar bertegur sapa saat berpapasan atau saling bercerita tentang  kehidupan yang dijalani. Meskipun tak dipungkiri kami pernah begitu membenci satu sama lain. Namun seiring waktu, justru sebab keterbiasaan, rasa sakit yang semula begitu menyesakkan pun perlahan menjadi samar hingga pergi tanpa perlu diminta. Akankah kita juga dapat berlaku demikian?  Sebentar, biar kutebak. Kau pasti akan bilang "tentu". Benarkan?

Saat kita saling mengirim pesan singkat, ada satu pesan darimu yang begitu ku ingat. Yakni perihal takaran hubungan antara kita. Kau berujar seandainya aku adalah teh dan kau gula. Tentu jika gula dimasukkan terlalu banyak maka rasa teh tersebut menjadi tak enak. Dan kau merasa hanya sebatas inilah kemampuanmu. Tidak kurang tidak lebih. Rupanya kau salah mengartikan sikapku. Sama sekali aku tidak menuntutmu lebih jauh dari ini. Hanya saja, aku ingin menegaskan bahwa tak selamanya kita begini. Meski ku bilang ingin menikmatinya, namun mengagungkan pertemanan sebagai landasan dibalik perasaan tersembunyi adalah hal yang tak sepatutnya kita lakukan secara terus menerus. Aku telah kehabisan cara. Hanya dapat diam terpaku menyaksikan jalan yang kita tempuh menuju jurang kehancuran. Aku ingin berhenti, membalikkan arah dan membawamu pergi. Tetapi langkah ini menolak dan tetap melaju dengan angkuhnya.

Alih-alih membiasakan diri hingga rasa tersebut pergi dengan sendirinya, yang terjadi justru perasaan ini kian kuat. Kini aku sudah tak dapat membedakan mana yang benar dan yang salah. Jika saja, andai saja, kalian berdua adalah satu. Pasti tak akan sesulit ini. Aku menginginkanmu tetapi aku juga tak dapat meninggalkannya. Egois memang. Setengah hatiku milikmu, dan setengahnya lagi ada dalam genggaman erat lelaki itu. Dan cobalah tebak apa yang terjadi. Ya, Aku kembali menyudahi segalanya. Mengakhiri semua angan dengan seseorang yang selama ini hanya ada dalam bayangan. Aku memilih untuk melepaskanmu. Sebelum aku berani mengambil langkah ini, terlebih dahulu kutelurusi semua hal tentangmu. Tentang semua teman perempuan yang dekat denganmu. Meski ini cukup berlebihan, namun setidaknya aku merasa lega karna mengetahui kau akan baik-baik saja tanpa kehadiranku. Dan kupastikan, perpisahan ini adalah yang terakhir kalinya. 

Lalu tak berapa lama kemudian aku jatuh sakit, saat itu yang yang terpikirkan hanyalah dirimu. Entahlah, aku masih saja berandai jika saja kau dapat menemaniku disini. Walau hanya sekedar menjagaku dalam perjalanan berobat. Dan keajaiban pun muncul, keesokan harinya ku dengar kau menanyakan kabar tentangku kepada seorang teman. Apakah aku baik-baik saja atau tidak. Padahal kita tak pernah menjalin komunikasi sejak terakhir kali aku memintamu untuk berhenti. Sempat terpikir dalam benak apa mungkin kau merasakan hal yang kurasa. Seperti seseorang yang memiliki firasat terhadap orang tertentu. Seketika aku tersadar dari lamunan. Bagai lelucon yang tak lucu. Mungkin akulah yang terlalu banyak menuai harap. 

Pada akhirnya aku memahami satu hal. Bahwa selalu ada sebab tak terduga untuk menyatukan atau memisahkan seseorang. Bagaimanapun juga, rahasia dapat tergesa khianat pada waktu. Oleh sebab itu, aku memilih untuk membuat akhir dari cerita ini. Dengan beberapa taburan kenangan dan satu sendok luka, maka terwujudlah bingkai masa lalu. Kemudian ku letakkan dalam sebuah kotak hadiah, yang nantinya sesekali akan ku buka, untuk memastikan apakah kebahagian yang ku dapat telah melampaui kesedihan yang tercipta. Dan juga untuk meyakinkan diri, bahwa kelak semua sudah tak terasa menyakitkan lagi.

Rabu, 25 Maret 2015

Kau adalah yang terbaik yang tak pernah ku miliki

Beberapa waktu yang lalu dia dan aku kembali bertemu. Jujur saja aku telah lama menantikan hal ini. Tentu karna rasa yang bersemayam dalam dada ingin segera menampakkan wujudnya. Setelah lebih kurang lima belas menit menunggu, akhirnya Ia pun tiba di depan kantor tempat aku bekerja. Dengan mengenakan baju kaos berwarna merah dilapisi jaket hitam Ia menghampiriku yang tengah berdiri persis di depan pagar. Aku tersenyum sambil memberikan sebuah usb yang berisikan film. "Ini film yang bagus. Kau akan menyesal jika tak menontonnya" ucapku sedikit memaksa. "Ah,yang benar? memang film ini tentang apa?" ucapnya yang mulai merasa penasaran. "Lihat saja sendiri. Disana  ada satu lagu yang sangat kusukai" jawabku. "Baiklah. Aku akan pulang. Sampai jumpa besok” Ia tertawa kecil seolah mengisyaratkan sesuatu. “Berhati-hatilah dalam perjalanan pulang" Ucapku menyudahi percakapan diantara kami. Dan Ia pun perlahan pergi hingga tak terlihat lagi. Meski hanya sebuah pertemuan singkat dengan alasan sederhana yang ku buat. Kurasa itu sudah lebih dari cukup. Ah, Siapa yang tak tau cinta. Bahkan hal kecil pun dapat menjadi sesuatu yang istimewa.

Setelah kejadian tersebut, kami menjadi lebih sering mengirimkan pesan singkat. Kami kembali dekat, kembali memberikan perhatian satu sama lain. Sama seperti saat masih menjalin suatu hubungan yang sebenarnya tak pernah ada. Lucu memang, dimana kami berada dalam sebuah ketidak pastian yang memberikan rasa nyaman. Lalu akhirnya setelah berbasa-basi, Aku sepakat untuk menonton film itu bersamanya. Sekaligus Ia ingin mengembalikan usb milikku. Dan keesokan harinya tepat jam sepuluh pagi aku tiba didepan rumah lelaki jangkung tersebut. Suasana nampak sepi. Hanya ada dia, adik serta bibinya. “Ibu pergi kemana?” Tanyaku mencoba mencairkan suasana. “Ibu sedang ada urusan diluar.” Jawabnya dengan senyum yang tak pernah berubah. “Oh. Iya iya” Akupun mengangguk tanda mengerti. “Aku ingin menunjukan sesuatu padamu. Agar tak ada salah paham” Ia berucap meyakinkan. Lalu Ia mulai menampilkan riwayat percakapan dengan salah seorang perempuan yang dulu pernah dekat dengannya. Sebetulnya Aku agak cemburu, tetapi Aku berusaha menghargai kejujurannya. Terlihat pula sedikit banyaknya Ia masih memberikan perhatian terhadap gadis itu. “Ayo langsung saja kita lihat filmnya. Aku sudah tak sabar” Ucapku mengalihkan pembicaraan. “Hm, yasudah. Tapi Kamu jangan marah” Ucapnya berusaha membujuk. “Iya” Aku pun tersenyum tipis.

Setengah jam berlalu, kami begitu serius memperhatikan film tersebut. Namun sesekali Aku menoleh kepadanya. Mengamati wajah yang selama ini selalu kurindukan. Tak jarang pula aku tersentak ketika Ia tiba-tiba menatap ke arahku. Pipiku memerah, malu menahan rasa  yang terus menggoyahkan pikiran. “Aku tak begitu mengerti dengan film ini. Terlalu banyak tokoh yang berbicara.” Ucapnya memecah keheningan diantara kami. “Sebetulnya film ini tentang teman dekat yang berjanji untuk tetap berhubungan walaupun mereka sekarang tinggal berjauhan. Sekelompok kawan lama yang kembali bertemu di acara reuni sekolah. Dan juga sebuah pertemuan yang membawa cinta lama kembali kehadapan mereka.” Aku mencoba menuturkan padanya. “Oh, Begitu. Jadi bagian mana yang menurutmu menarik?” Ucapnya dengan sedikit mencondongkan badan. “Mari Kita percepat” dan akupun mencari bagian yang ingin kutunjukkan. “Ini dia” Aku tersenyum sambil menatap matanya.

You came close enough to know my heart beat
But still not close enough for me..
Through the good times and the bad
You were the best I never had
The only chance I wish I had to take
But there was no writing on the wall
No warning signs to follow
I know now and I just can't forget
You’re the best I never had

Seketika Ia tertegun, mungkin Ia sedang menerka apa yang aku pikirkan. “Apa kau ingin mencoba ini? bukalah mulutmu” Ia pun mengambil sepotong kue dan menyuapkannya padaku. Lalu saat aku mendekat, Ia mengecup keningku pelan. Aku hanya terdiam, tak mampu berkata  apapun. Ku dekap erat tubuhnya.  Seolah tak ingin kehilangan. Ingin aku mengakui, bahwa aku tak mampu berpaling. Tak perduli seberapa keras aku berusaha.  Tetap saja aku ingin kembali dalam dekapan hangatnya. “Kali ini aku takkan pergi lagi. Aku tak akan melepaskanmu” Ucapku perlahan setengah berbisik. “Aku juga” Ucapnya sembari membelai lembut rambutku. Lalu kami pun larut dan terbuai. Seolah dinding pemisah yang selama ini menghalangi tiba-tiba saja menghilang. Sejenak terlupa keletihan hati atas ribuan dusta yang tercipta. Aku menyadari betapa naifnya diriku selama ini yang menganggap menyembunyikan perasaan hingga rasa tersebut memudar adalah jalan terbaik. Oh Tuhan, Maafkan aku. Maafkan aku karena telah ingkar kepadaMu. Aku sunguh sangat menyukainya. Tak bisakah Engkau pertahankan dia agar tetap disisiku? Hingga aku benar-benar siap untuk melepaskannya. Ku akui bahwa aku memang jahat, namun sekali ini saja. Sebab aku begitu menginginkannya.



Senin, 05 Januari 2015

Sebelum kita sejauh matahari, kita pernah sedekat nadi

"Sungguh sulit untuk memulai sesuatu, namun sangatlah mudah untuk mengakhirinya" itulah yang kau ucapkan. Dan ternyata memang benar adanya. Terkadang tak mudah bagiku untuk melukiskan awal dari cerita kita. Karna tiap puing kenangan sukar untuk disatukan. Begitu banyak waktu terlewatkan terbuang dengan percuma. Sebab hati masih saja menyangkal akan kenyataan yang ada. Hari demi hari berlalu dan kita berdua kian membentangkan jarak. Seolah berada di dua dunia yang berbeda. Ketika kau menyaksikan indahnya rembulan, aku justru tengah menikmati sinar mentari menyapa pagi. Bahkan sekedar menatapmu pun kini telah menjadi suatu hal yang mustahil. 

Lalu aku teringat akan sesuatu kejadian semasa sekolah dulu. Dimana untuk pertama kalinya aku memberanikan diri mengecup pipimu. Tentu saja aku malu bukan kepayang. Mulanya hanya sekedar ingin bercanda. Tetapi malah terjadi sungguhan. "Apa kau tahu akan satu hal?" ucapku. "Apa itu?" jawabmu. Lalu aku tersenyum dan kembali berkata "berjanjilah untuk tidak memberitahukan hal ini kepada siapapun. Cukup kita berdua yang tahu." kau tertawa kecil sembari menganggukkan kepala tanda setuju. Hatiku berdegup kencang. Rasanya seperti lari 5 putaran keliling satu sekolah. Kemudian perlahan aku mendekat. Berbisik ditelingamu dan berkata "Aku.... Sayang.. Kamu" lalu tanpa sadar aku mengecup pipimu. Seketika kedua pipiku memerah. Agar tak terlihat olehmu, aku bergegas beranjak dari tempat duduk dan ingin berlari. Namun nampaknya kau tak membiarkanku lolos begitu saja. Kau genggam tanganku. Mencoba menahan, akan tetapi aku berhasil melepaskan diri. Dan aku berlari pergi.

Esok hari, setibanya di sekolah. Aku telah mempersiapkan diri untuk menerima kemarahanmu. Namun diluar dugaan, kau tersenyum dan berkata "mengapa kemarin kau berlari? Padahal ada yang ingin ku sampaikan padamu". Aku tertegun hingga tak dapat berkata apapun dan kau tertawa melihat tingkah lakuku. Kutepuk pundakmu sambil tersipu malu. Aku selalu saja tersenyum jika mengingat hal tersebut. Akan tetapi, tak berapa lama kemudian aku tersadar. Bagaimanapun juga semua itu hanya kenangan. Ya, Aku hanyalah sebagian kecil dari masa lalumu. Bagai Seseorang yang mendekap erat rindunya. Berharap  agar tak satupun makhluk dimuka bumi ini yang dapat mengetahui isi hatinya, perasaannya yang sesungguhnya.

Entah apa yang harus kulakukan. Entah apa lagi yang harus kuperbuat. Saat kucoba lupakanmu dengan mendustakan segala kerinduan, justru lukalah yang kudapat. Lantas bagaimanakah seharusnya? Selalu tak ada jawab dari tanyaku. Seakan menemukan titik beku disetiap jalan berliku. Tak jua kusesali ribuan hariku bersamamu. Baik yang terukir indah maupun yang tlah menggores luka. Yakin pada rencana Yang Maha Esa. Karna apa yang menurutku baik, bisa saja sebenarnya teramat buruk bagiku, dan apa yang menurutku buruk, mungkin sebetulnya amat baik untukku. Setidaknya, sebelum kita mencoba memusnahkan seluruh rasa, kita pernah mencoba mempertahankan segalanya dengan satu alasan yang sama. Yakni karna kita saling mencinta.