Senin, 18 Oktober 2021

Ch. 02

"Cinderella"

Apa kalian tahu mengapa dia berusaha kabur mati-matian sebelum jam 12 malam? 
Karena sihirnya akan menghilang? 
Memangnya kenapa jika sihirnya lenyap?
Itu karena dia tidak suka dan lebih baik mati daripada sosoknya yang jelek itu terlihat oleh orang yang dia cintai. 
Anak yang lusuh dan penuh debu, sedikit beruntung sehingga bisa mengenakan gaun cantik dan sepatu kaca. 
Pasti dia sangat senang. 
Ditambah lagi dia bisa menari bersama pangeran dan saling bertatapan. 
Itu seperti mimpi. 
Pasti sangat bahagia. 
Tapi akhirnya dia sadar, bahwa mimpi itu tidak akan bertahan lama. 
Karena itu dia kabur sebelum jam 12 malam. 




Dia yang kehilangan gaun indah, sepatu kaca yang mengkilap, dan kereta labu yang keren, sangatlah menyedihkan. 
Tapi setidaknya dia masih punya ibu peri. 
Dan besoknya si pangeran muncul sambil membawa sepatu kaca lalu mengubah hidupnya 180 derajat. 




Akan tetapi sebelum pangeran datang, di dini hari itu, apa yang cinderella pikirkan ya? 
Apa yang dia pikirkan sampai bisa bertahan? 
Mungkin, dia sangat panik ketika sampai di rumah jam 12 lebih. 
Dia pasti tak percaya kalau dia sudah pergi ke pesta dansa. 
Dan hatinya pasti berdebar. 
Dia juga pasti tidak tahu harus bagaimana dan menghentakkan kakinya berulang-ulang karena pangeran jatuh cinta padanya. 
Tapi, seperti apa perasaannya saat jam 2 pagi? 
Saat itu, apa hatinya masih berdebar? 
Atau dia memasuki fase setelahnya yakni sadar? 




Rok yang tidak mengembang. 
Gudang kotor dan lusuh yang diberikan oleh ibu tiri. 
Situasi dirinya sangat berbeda dengan pangeran. 
Dia sudah terlanjur mencintai pangeran itu. 
Tapi dia tidak bisa bertemu dengannya untuk yang kedua kali. 
Keberuntungan yang dia dapat dalam bentuk sihir selama satu malam pada akhirnya menjadi hal mengerikan bagi cinderella. 
Sihir yang sangat kejam, yang membuat dia sadar betapa jahat kenyataan yang ada. 




Disisi cerita yang lain, aku dan pria yang selalu kuceritakan, entah bagaimana kami kembali bersama.
Meski tidak secara utuh.
Kami mencoba mengulang perasaan rumit ini dengan sedikit sudut pandang yang berbeda. 
Bukan lagi cinta yang menggebu-gebu ingin memiliki.
Tapi bersiap menghargai apapun keputusan yang nantinya diambil jikalau berpisah.
Karena itulah bagiku waktu yang sedang ku habiskan bersama pria itu saat ini mirip dengan beberapa menit yang cinderella lalui sambil menari bersama pangeran.
Aku teramat senang karena ternyata dia tidak melupakanku. 
Sulit dipercaya, dia masih menyukaiku. 
Jantungku berdebar setiap kali mendengar suaranya. 
Aku mabuk akan manisnya hubungan kami hingga tak dapat mengingat hal penting lainnya. 
Kenyataannya, ini mungkin hanya sementara. 
Sebab perbedaan situasi yang dijalani tidak bisa diatasi hanya dengan fantasi cinta. 




Disaat dini hari hingga pagi hari ketika pangeran mencarinya, itu pasti saat-saat dimana cinderella sulit untuk bertahan. 
Tetapi untukku, sepertinya saat itu akan berlangsung selamanya. 
Aku hanya bisa menjadi cinderella di jam 2 pagi. 
Menjadi seseorang yang sadar seberapa rendah dan tidak berdaya dirinya. 



Sabtu, 19 Juni 2021

Ch. 01

Ini sangat luar biasa. 
Perihal rasa sukaku terhadapnya. 
Kupikir tak akan merasakan perasaan seperti ini lagi.
Karna menyukai seseorang berarti ingin bersandar, berharap, dan mudah terluka. 
Bukankah itu perasaan yang tak berguna? 
Maksudku, rasa cinta.. 
Tapi ternyata aku sendiri pun lupa, bahwa perasaan tak bisa dikendalikan. 
Siapa yang mengira jika cinta di umur belasan bisa bertahan sebegitu lama.



Di sela-sela sisinya yang realistis, dia terlihat sangat luar biasa karena dia tidak melupakan rasa kasih sayangnya. 
Sisinya yang seperti itu yang sangat aku sukai. 



Aku bukannya tidak mengerti alasan mengapa kami tidak bisa bersama. 
Tapi aku tidak bisa melewatkannya lagi. 
Karena jika kali ini aku melewatkannya, sepertinya aku tidak akan bisa kembali. 
tentu aku sangat tidak menginginkan hal itu. 



Aku berpura-pura tidak mendengar. 
Berpura-pura tidak mengerti. 
Dan seolah tak punya pertimbangan lain, agar dapat menggoyahkan pria itu.



Sekarang, aku sedang tertahan oleh keegoisanku. 
Aku sadar setelah mendengar kata-kata ibu, bahwa selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri. 
Sampai saat ini aku khawatir tentang apa yang akan terjadi padaku jika aku melewatkan pria itu. 
Aku tidak berpikir betapa sulitnya ketika dia menerimaku. 
Tentu saja selama ini aku selalu berusaha keras. 
Tapi aku tak pernah memikirkan hal yang mendasar. 
Walaupun aku berusaha sekuat tenaga, itu tidak akan sebanding dengan dia yang akan sangat kesulitan ketika menghadapi pandangan orang lain. 



Kalau bersamaku, apa kau akan selalu merasa seperti orang yang berdosa? 



Apa dia tidak akan bahagia jika aku terus menahannya supaya dia tak pergi? 
Walaupun aku berkorban demi dia, tetap saja semua ada batasnya. 
Dia tidak pantas menerima diriku yang seperti ini. 



Perasaanku terhadap pria itu menjadi lebih besar dengan tidak terkendali. 
Dan setelah mengenalnya, ini pertama kalinya aku tak tau apa yang harus kulakukan selanjutnya. 




Jumat, 21 Mei 2021

Weakness

Kau tidak pernah pergi, 
masih selalu ada. 
Hanya saja tidak bisa dimiliki. 
Sejatinya, Kau tak pernah pergi.
Selalu bisa dicintai. 
Kau hanya tak bisa mencintai. 

Kau, Candu. 







Beberapa waktu terakhir, hubungan kita berjalan dengan baik.
Tentu saja aku sangat senang.
Kita berbagi pesan suara, bermain bersama sambil mengobrol, berkabar secara intens.
"Ah akhirnya ada juga hari membahagiakan seperti ini" Pikirku. 
Aku ingin terus seperti ini, selama mungkin, selama yang aku bisa untuk menahanmu disini. 
Hingga aku benar-benar yakin untuk memutuskan jalan mana yang perlu ku tempuh. 
"Pelan pelan saja, tak apa, sepertinya ini akan berhasil asalkan aku sabar menunggu dan tak banyak menuntut" Itu yang selalu ku ucapkan pada diriku sendiri setiap harinya. 




Awalnya aku merasa cukup hanya dengan melihat fotomu.
Kemudian, aku menjadi sangat gembira ketika bisa mendengar suaramu.
Lambat laun, muncul keserakahan dari dalam diri.
Kehadiranmu menjadi suatu keharusan. kesenangan ini perlahan berubah menjadi sebuah pola keterbiasaan.
Jika kau tak kunjung memberi kabar, maka muncul perasaan gelisah dan cemas.  
Lalu akupun akan mulai menerka alasan dibaliknya. 
"Sepertinya dia sedang sibuk... atau dia sengaja mengabaikanku ya? Ah bagaimana ini... apa jangan-jangan kemarin aku salah ngomong, haduh... "
Entah dari mana ketakutan tak berdasar ini berasal. 




Sikapmu selalu berubah-ubah dan membingungkan. 
Terkadang, kamu bisa menjadi begitu hangat dan menyenangkan. 
Lalu selang beberapa hari, kau dapat berubah menjadi begitu dingin, acuh tak acuh. 
Sepertinya pengharapan besar yg sengaja ku sembunyikan akhirnya kau ketahui. 
Apa karena itu kau jadi menegaskan batasan yang nyata? 




Aku tahu kalau tindakanku salah. 
Aku mengetahuinya lebih dari siapapun. 
Aku hanya takut melakukan kesalahan yang sama jika melewatkanmu lagi. 
Karna kali ini aku yakin akan berhasil.. 
Tapi sayangnya, segala situasi yang terjadi saat ini justru hanyalah kesalahpahaman belaka. 
Lebih tepatnya, aku sedang ditipu oleh asumsiku sendiri. 




Kenangan kita merupakan hal yang paling kusukai, sekaligus menjadi hal yang kubenci... 


Kau yang menjadi tujuan hidupku, tlah menjadi kelemahan terbesar yang kumiliki... 




Perlahan, aku akan berusaha belajar bagaimana mewajarkan apa-apa yang telah hilang, dan bagaimana memaklumi apa yang telah pergi.. 
Namun jika kelak cara tersebut tak berhasil, satu-satunya langkah terakhir yang bisa kulakukan hanyalah menyembunyikan perasaan ini sebaik mungkin. 
Agar tak ada lagi seorang pun mampu mengetahuinya.
Termasuk kau. 

Minggu, 14 Maret 2021

Resistensi

Setiap kali memikirkanmu, aku selalu merasa seperti jam tangan rusak. Terus menerus terpaku pada masa lalu yang telah lama terhenti. Rupanya tanpa kusadari, kamu telah lama menjadi salah satu syarat bahagiaku. Mungkin itulah alasan mengapa selama ini aku tak bisa berhenti untuk mencoba kembali.


Karna selalu berusaha mencari, pada akhirnya muncul berbagai konflik dan resistensi dalam diri. 
Apa kau tau? Bergelut dengan diri sendiri amat sangat melelahkan. Selama ini yang dapat ku lakukan hanya menekan dan mengalihkan pikiran. Menolak kenyataan. 


Sedikit demi sedikit, perasaan yang tertahan akhirnya meluap. Penyesalan, frustasi, rasa bersalah, rindu, selalu saja menggerogotiku. Aku juga muak dengan orang yang bilang "Kau pasti bisa"...
Tidakkah seseorang mengerti? sebenarnya aku tidak bisa. Mau sebanyak apapun aku berusaha, hasil akhirnya selalu sama.


Rasanya, aku ingin langsung berlari ke arahmu. Dalam sehari aku dapat membayangkan adegan tersebut sebanyak puluhan bahkan ratusan kali. Pikiranku berkecamuk. Kehilangan arah. "ah, setelah aku kesana, memangnya apa yang akan ku katakan? Apakah dia akan membenciku? Bagaimana ini.."  ucapku lirih dalam hati. "hei, jangan bodoh. Memangnya kamu mau membuat dia semakin sengsara karena kemunculanmu? Cepatlah berhenti" logikaku menyahut.


Tawar menawar antara keinginan dan realita nampaknya belum membuahkan hasil.


Rinduku penuh, utuh. 
Memburu temu. 
Sibuk menerka apa kau juga merindu. 

Rabu, 03 Februari 2021

Fantasi

Batas antara kenyataan dan fantasi.
Aku sekarang sedang berjalan diatas tali yang rentan itu.
Kebanyakan orang akan langsung menghadapi kenyataan.
Hingga tak jatuh kejurang angan-angan.
Masalahnya, adalah hasil mengerikan karna tak mampu membedakan batas itu.
Karena fantasi itu amat sangat menggiurkan.
Akan tetapi saat seseorang jatuh dalam fantasi dan berpaling dari kenyataan.
Maka dia akan kehilangan segalanya.



Padahal aku sudah berjanji untuk pergi. Tapi masih saja perasaanku terasa rumit untuk dimengerti. 
Padahal aku lah yang ingin mengakhiri, namun lagi-lagi aku jua yang ingin kembali.


Aku... Terhadapmu...


Hanya dengan melihat potret wajahmu, seketika dapat membuatku menangis.
Hanya dengan mendengarkan lantunan lagu, dapat membuat pertahananku runtuh.



Ku pikir, aku yang kau nanti.
ternyata, bagimu.. akulah yg paling menyakiti.
Ku kira, akulah yang kau dambakan.
Nyatanya, bagimu.. aku tak lebih dari sebuah beban.