Jumat, 21 Mei 2021

Weakness

Kau tidak pernah pergi, 
masih selalu ada. 
Hanya saja tidak bisa dimiliki. 
Sejatinya, Kau tak pernah pergi.
Selalu bisa dicintai. 
Kau hanya tak bisa mencintai. 

Kau, Candu. 







Beberapa waktu terakhir, hubungan kita berjalan dengan baik.
Tentu saja aku sangat senang.
Kita berbagi pesan suara, bermain bersama sambil mengobrol, berkabar secara intens.
"Ah akhirnya ada juga hari membahagiakan seperti ini" Pikirku. 
Aku ingin terus seperti ini, selama mungkin, selama yang aku bisa untuk menahanmu disini. 
Hingga aku benar-benar yakin untuk memutuskan jalan mana yang perlu ku tempuh. 
"Pelan pelan saja, tak apa, sepertinya ini akan berhasil asalkan aku sabar menunggu dan tak banyak menuntut" Itu yang selalu ku ucapkan pada diriku sendiri setiap harinya. 




Awalnya aku merasa cukup hanya dengan melihat fotomu.
Kemudian, aku menjadi sangat gembira ketika bisa mendengar suaramu.
Lambat laun, muncul keserakahan dari dalam diri.
Kehadiranmu menjadi suatu keharusan. kesenangan ini perlahan berubah menjadi sebuah pola keterbiasaan.
Jika kau tak kunjung memberi kabar, maka muncul perasaan gelisah dan cemas.  
Lalu akupun akan mulai menerka alasan dibaliknya. 
"Sepertinya dia sedang sibuk... atau dia sengaja mengabaikanku ya? Ah bagaimana ini... apa jangan-jangan kemarin aku salah ngomong, haduh... "
Entah dari mana ketakutan tak berdasar ini berasal. 




Sikapmu selalu berubah-ubah dan membingungkan. 
Terkadang, kamu bisa menjadi begitu hangat dan menyenangkan. 
Lalu selang beberapa hari, kau dapat berubah menjadi begitu dingin, acuh tak acuh. 
Sepertinya pengharapan besar yg sengaja ku sembunyikan akhirnya kau ketahui. 
Apa karena itu kau jadi menegaskan batasan yang nyata? 




Aku tahu kalau tindakanku salah. 
Aku mengetahuinya lebih dari siapapun. 
Aku hanya takut melakukan kesalahan yang sama jika melewatkanmu lagi. 
Karna kali ini aku yakin akan berhasil.. 
Tapi sayangnya, segala situasi yang terjadi saat ini justru hanyalah kesalahpahaman belaka. 
Lebih tepatnya, aku sedang ditipu oleh asumsiku sendiri. 




Kenangan kita merupakan hal yang paling kusukai, sekaligus menjadi hal yang kubenci... 


Kau yang menjadi tujuan hidupku, tlah menjadi kelemahan terbesar yang kumiliki... 




Perlahan, aku akan berusaha belajar bagaimana mewajarkan apa-apa yang telah hilang, dan bagaimana memaklumi apa yang telah pergi.. 
Namun jika kelak cara tersebut tak berhasil, satu-satunya langkah terakhir yang bisa kulakukan hanyalah menyembunyikan perasaan ini sebaik mungkin. 
Agar tak ada lagi seorang pun mampu mengetahuinya.
Termasuk kau.