Jumat, 19 Desember 2014

Matahari


Sebuah kebenaran dapat diibaratkan bagai teriknya sinar matahari. Begitu menyilaukan hingga sebagian orang tak sanggup  untuk melihatnya. Dan itulah yang sedang ku rasakan sekarang. Aku masih tak sanggup menerima kenyataan bahwa kau telah menaruh hati kepada orang lain. Tentu tak sepantasnya aku berkata demikian. Mungkin orang lain akan mengganggapku gila, karna aku masih saja memperdulikanmu. Yayaya, aku memang seorang yang tak sadar diri bukan? begitu maksudmu? Sudah jelas berjanji menjaga satu hati pada sang kekasih namun nyatanya masih tak dapat menepati. 

Perihal kenyataan yang baru kuketahui, entahlah.. aku juga tak dapat mengerti. Mengapa aku harus mencemburuimu, mengapa juga aku harus mengetahui kembali kehidupanmu. Toh tak ada alasan lagi untukku melakukan semua itu. Aku juga tak inginkan hal ini terjadi. Akan tetapi Tuhan rupanya begitu mencintaiku, sehingga menampakkan bagaimana hati yang dulu sering kau bilang tak dapat beralih dengan mudah tersebut nyatanya justru berlaku sebaliknya. Tentu ini bukan salahmu. Wajar jika seseorang yang merasa terluka akan menambatkan hati kembali kepada orang yang baru. Hanya saja aku begitu takjub. Sebegitu cepatkah kau menghilangkan rasa itu ? Nampaknya kau telah begitu lelah. Yah, aku juga begitu lelah menjalani ini semua.

Kemudian aku teringat akan hal yang pernah kita lakukan dulu. Ketika kita menjalani suatu hubungan yang kau sebut sebagai 'friendzone', dimana kita saling mencinta namun malah terjebak dalam sebuah ikatan pertemanan. Kita seringkali berdebat dan aku selalu berkata "cukup sudah. Kita akhiri semuanya sampai disini". Namun sebenarnya tahukah kau mengapa aku berani berkata begitu? Karna aku tahu, kau takkan mungkin menjauh dariku. Karna aku yakin, kau akan kembali dalam dekapanku. Namun, ada satu hal yang  terlewatkan saat itu. Yakni pertanyaan tentang sampai dimanakah kau akan terus mengiringi langkahku. Dan terjawab sudah. Mungkin inilah langkah terakhirmu disisiku.

Dalam hidup, kita akan dipertemukan dengan beberapa orang yang salah hingga akhirnya bertemu dengan orang yang tepat. Mengapa harus seperti itu? Karna Tuhan inginkan kita belajar dari setiap kejadian. Bukan berarti aku menganggapmu sebagai orang yang salah. Tidak, sama sekali tidak. Tak pantas untuk orang yang jauh dari kesempurnaan sepertiku dapat beranggapan demikian. Aku hanya mencoba menjawab setiap tanya dalam benak yang terus mengusik ketenangan batin. Mencari titik temu untuk selesaikan setiap ujian kehidupan. Apakah hanya aku yang berpikir perkara mengubah rasa sebegitu sulitnya? Atau kau yang memiliki keahlian sehingga mampu membolak-balikan hati seperti menjentikan jari? 

Kini aku sadar perihal kehilangan yang sesungguhnya. Hilang berarti lenyap seketika. Walaupun kembali, sudah tak mungkin utuh seperti sedia kala. Mungkin rasamu telah mati untukku, namun setidaknya aku pernah menjadi seorang yang begitu berarti dalam kehidupanmu. Meski dapat dikatakan jalinan kasih kita tak berjalan mulus, juga penuh dengan ujian yang bertubi-tubi. Aku tetap bersyukur pernah memiliki hatimu. Terima kasih banyak untuk segalanya.

Sabtu, 13 Desember 2014

Lenyap

Begitu cepat waktu terlewatkan, begitu banyak rasa yang dikorbankan, juga semakin banyak keraguan muncul dalam pikiran. Benarkah yang telah kulakuan ? Membunuh rasa demi menjaga satu cinta ? Ya, cinta seseorang yang teramat dalam kepadaku. Walau kadang aku tak begitu yakin apakah cinta tersebut nantinya dapat membahagiakanku atau tidak. Karna seringkali ego berkuasa diantara rasa yang kau puja. Kasih, tidakkah kau sadari ? Rasaku perlahan menghilang karna emosi tak berbatas yang  terus menghujam asa bak belati. Usahaku mencintamu seutuhnya kian memudar seiring luka yang terus kau torehkan.

Bagai boneka penghibur hati, ku mainkan seluruh peran dengan begitu apik dan teliti. Ku buat agar keadaan berjalan dengan semestinya. Tentu seperti yang kalian kehendaki. Meski tak dipungkiri lelah ini juga inginkan balasan. Janji bahagia serta kehidupan yang lebih baik di masa depan. Namun air mata perlahan mengalir menyiratkan sebuah jawaban. Seolah tak dapat menerima kenyataan atas jalan yang telah terlampau jauh ku tempuh. Mau apa lagi, semua telah terlanjur disepakati. Dan dimulailah peran baru yang semakin sulit untuk diakhiri.

Besok adalah hari penentuan, tiba saat dimana aku akan berbesar hati menerima semuanya. Cinta, janji setia, juga angan hidup bersama. Karna pertunangan bukan lagi sebuah rasa yang dapat dianggap sebagai suatu pemainan. Kusadari kita semakin bertambah tua. Sifat kekanak-kanakan yang kita miliki pun patut dihilangkan dan berganti dengan kedewasaan. Dewasa dalam artian tak ada lagi kekerasan, baik dalam perihal hati atau tindakan. Juga kontrol emosi, hendaknya dapat kita perbaiki.

Pada hakikatnya, semua permasalahan tergantung dari bagaimana cara diri kita sendiri mengatasinya. Meski juga tak terlepas dari kuasa Tuhan yang Maha Menentukan. Setidaknya kita harus berjuang sendirian untuk menemukan jalan keluar disetiap cobaan. Walaupun hasilnya tak seperti yang di harapkan. Aku selalu berusaha dan percaya, semua akan indah pada waktunya.

Kamis, 11 Desember 2014

Hati dan Gigi

"Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati ini.." itulah sebagian lirik dari salah satu lagu yang terkenal pada zamannya. Dulu aku sering menyangkal hal tersebut. Aku selalu berpendapat bahwa mengobati luka hati jauh lebih mudah yaitu dengan bersenang-senang bersama teman atau dengan melakukan hobi yang disukai. sedangkan jika ingin mengobati rasa sakit pada gigi jalur yang ditempuh lumayan sulit, ya dengan minum obat. huh, membayangkannya saja sudah membuatku bergidik.

Saat aku mulai beranjak dewasa dan telah merasakan bagaimana manis pahitnya cinta, kurasa aku mulai merubah pendapatku dulu. Bagaimanapun sulitnya mengobati sakit gigi, setidak-tidaknya ia memiliki obat yang pasti. sedang sakit hati, mengatasinya tak semudah yang ku bayangkan. Saat patah hati kita menjadi seseorang yang berbeda. Kita menjadi pembohong, bahkan terkadang menjadi seorang yang munafik barangkali. Seolah tak ada jalan keluar selain tersenyum dihadapan orang lain, itulah yang kucoba lakukan untuk menutupi luka hati. Bukan aku tak mencoba memperbaikinya, namun aku telah melakukan semuanya. Bersenang-senang, melakukan hobi, juga melampiaskan seluruh perasaan dengan tangisan. Akan tetapi, pedih hati tak kunjung jua terobati. Dan mau tak mau aku harus menikmatinya. Karna raga tak lagi mampu berbuat apa-apa.

Bagaimana mungkin seseorang dapat mencintai pria lain saat ia telah mempunyai kekasih. Kekasih yang sebentar lagi akan bertunangan dengannya. Mau dikata apa  lagi,memang begitulah cinta. Sungguh ironis bukan? Saat hati masih tak mampu berdamai dengan logika, waktu justru terus melaju seolah tak perduli dengan apa yang terjadi. Dan dengan angkuhnya ia meluluh lantakan ribuan angan dan jawaban dari penantian. Waktu memang tak pernah bersalah terhadap apapun, hanya manusialah yang tak dapat bijak mengendalikannya. Begitu juga perasaan yang membuatku terluka. Memang akulah yang tak sanggup untuk  menghentikannya.

Sebetulnya telah lama kekasihku memberikan sebuah cincin indah yang berkilau. Dia mengungkapkan perasaannya di depan banyak orang, sembari mengenakan cincin tersebut ke jari manisku. Kebetulan saat itu kami sedang melakukan suatu kegiatan organisasi. Dia juga telah satu kali berkunjung kerumahku. Bersama orang tuanya ia berniat untuk segera mengadakan acara pertunangan kami. Tetapi karna begitu mendadak setelah sempat sebelumnya tanggal yang kami tetapkan mengalami pembatalan, Ayahku memutuskan untuk menundanya. Dan itu terjadi sekitar satu bulan yang lalu. 

Tak kusadari hari begitu cepat berlalu, tiba saatnya bagiku untuk mengikat satu hati untuknya. Tentu untuk kekasihku. Jelang beberapa hari lagi, kami akan segera melangsungkan acara pertunangan. Entahlah, apa aku harus merasa bahagia atau merasa sedih. Aku senang melihat orang tuaku bahagia karna berfikir aku sudah dewasa dan telah memilih calon pasangan yang tepat. Tetapi aku juga sedih ketika menatap kembali kejujuran rasa dalam kalbu. Mampukah aku mencintainya seperti aku mencintaimu ? Tak taukah kau bagaimana sulitnya aku menghentikan rasaku ini untukmu? Ah sudahlah. Toh kau juga takkan mengerti. Kita biarkan saja ini semua berjalan dengan semestinya. 

Aku akan berusaha agar tak lagi mengusik kehidupanmu. Berusaha mengendalikan setiap rasa yang tumbuh dalam benak dan relung hati. Namun, biarkanlah aku untuk tetap berkhayal bersama semua tulisan yang ku hias dalam duka, biarkan aku menyelesaikan semua yang telah kumulai. Hingga kelak aku dapat menemukan akhir dari kisah panjang berbalut angan dan kenangan. Semoga saja penyesalan takkan menghampiri kita. Ya, semoga semua ini berujung bahagia.

Jumat, 05 Desember 2014

Hujan

Hujan, banyak orang mengartikannya dengan kenangan menyedihkan ataupun penghalang untuk melakukan rutinitas kegiatan. Akan tetapi, bagiku hujan dapat membawamu padaku. Walaupun bukan raga kita yang bertemu dan hanya anganlah yang bersatu, aku sudah cukup bahagia menikmatinya. Entahlah, aku merasa kau selalu bersamaku. Seperti sekarang, seakan kau hadir disetiap bagian kehidupan yang ku jalani.

Namun, kadang kala aku merasa semua ini hanya fantasi yang kuciptakan sendiri. Seperti fatamorgana yang kian lama membuatku gila. Sebab telah teramat jauh ku tambatkan hati ini padamu. Kasih, kau hadir bagaikan angin yang berhembus perlahan menyejukkan dan dalam sekejap pergi menghilang. Membuatku ingin menemukanmu kembali.

Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi. Aku terus menerus memikirkanmu. Masih saja kusesali apa yang telah terjadi. Juga tak kupungkiri jika semua ini memang salahku. Aku yang telah membawamu dalam rangkaian cerita cinta tak berkesudahan. Sehingga tercipta angan hidup bersama yang sejatinya bagai bom waktu yang siap menghancurkan.

Maafkan aku, hanya itulah yang dapat ku sampaikan padamu. Maafkan hati ini yang masih saja mengharapkanmu. Maafkan juga rasa ini yang masih tak rela melepaskanmu. Namun perlu kau tau, aku akan berusaha memperbaiki semuanya. Mencoba mengobati perih hati tanpa menuai luka yang baru, dan aku selalu berdoa demi keselamatanmu, juga berharap agar kelak kau temukan bahagia. Meski bukan bersamaku.

Selasa, 02 Desember 2014

Putih Abu-Abu

    Saat matahari mulai menampakkan sinarnya, kusapa Ia dengan senyum dan doa. Berharap agar seluruh hariku berlalu dengan sempurna. Dengan pakaian lengkap, akupun siap berangkat bekerja. Ditengah perjalanan, tak sengaja ku lihat sepasang remaja mengenakan seragam putih abu-abu melintas dihadapanku. Nampak kebahagian sedang bersarang di hati mereka.
    Lalu aku teringat akan kita, seketika bagian kecil dari kenangan itu muncul kembali menampakkan diri. Tentang bagaimana kau yang rela meluangkan waktu untuk menjemputku, dan aku yang selalu menceritakan lelucon yang bahkan kadang kala sama sekali tak lucu, akan tetapi kau tetap tersenyum melihat tingkah laku ku.
    Oh, Aku rindu masa-masa sekolah dulu. Ingin aku kembali ke masa lalu. Ku pikir akan mudah mengobati luka saat kita telah terpisah jarak. Namun ternyata aku salah. Malah rasa ini semakin perih tiap detiknya. Dan juga semakin menjadi-jadi. Mencoba untuk menemukan jawaban saat tak ada tanya yang terucap. Mencoba memahami akhir dari apa yang belum sempat kita mulai.
    Aku tertegun sejenak, mencari cara menahan perasaan yang terus berkecamuk dalam dada. Ingin ku bunuh saja semua rindu yang perlahan menusukku. Agar dapat ku raih lagi tawa bahagia. Namun tahukah kau? aku lebih memilih membiarkan perasaan ini bersemayam dalam kalbu. Meski aku sadar rasa ini akan menghancurkanku. Lalu mengapa aku melakukan ini semua? karna aku begitu menyukaimu. Bahkan melebihi apa yang kau tau.