Sabtu, 19 Juni 2021

Ch. 01

Ini sangat luar biasa. 
Perihal rasa sukaku terhadapnya. 
Kupikir tak akan merasakan perasaan seperti ini lagi.
Karna menyukai seseorang berarti ingin bersandar, berharap, dan mudah terluka. 
Bukankah itu perasaan yang tak berguna? 
Maksudku, rasa cinta.. 
Tapi ternyata aku sendiri pun lupa, bahwa perasaan tak bisa dikendalikan. 
Siapa yang mengira jika cinta di umur belasan bisa bertahan sebegitu lama.



Di sela-sela sisinya yang realistis, dia terlihat sangat luar biasa karena dia tidak melupakan rasa kasih sayangnya. 
Sisinya yang seperti itu yang sangat aku sukai. 



Aku bukannya tidak mengerti alasan mengapa kami tidak bisa bersama. 
Tapi aku tidak bisa melewatkannya lagi. 
Karena jika kali ini aku melewatkannya, sepertinya aku tidak akan bisa kembali. 
tentu aku sangat tidak menginginkan hal itu. 



Aku berpura-pura tidak mendengar. 
Berpura-pura tidak mengerti. 
Dan seolah tak punya pertimbangan lain, agar dapat menggoyahkan pria itu.



Sekarang, aku sedang tertahan oleh keegoisanku. 
Aku sadar setelah mendengar kata-kata ibu, bahwa selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri. 
Sampai saat ini aku khawatir tentang apa yang akan terjadi padaku jika aku melewatkan pria itu. 
Aku tidak berpikir betapa sulitnya ketika dia menerimaku. 
Tentu saja selama ini aku selalu berusaha keras. 
Tapi aku tak pernah memikirkan hal yang mendasar. 
Walaupun aku berusaha sekuat tenaga, itu tidak akan sebanding dengan dia yang akan sangat kesulitan ketika menghadapi pandangan orang lain. 



Kalau bersamaku, apa kau akan selalu merasa seperti orang yang berdosa? 



Apa dia tidak akan bahagia jika aku terus menahannya supaya dia tak pergi? 
Walaupun aku berkorban demi dia, tetap saja semua ada batasnya. 
Dia tidak pantas menerima diriku yang seperti ini. 



Perasaanku terhadap pria itu menjadi lebih besar dengan tidak terkendali. 
Dan setelah mengenalnya, ini pertama kalinya aku tak tau apa yang harus kulakukan selanjutnya.