Jumat, 19 Desember 2014
Matahari
Sabtu, 13 Desember 2014
Lenyap
Begitu cepat waktu terlewatkan, begitu banyak rasa yang dikorbankan, juga semakin banyak keraguan muncul dalam pikiran. Benarkah yang telah kulakuan ? Membunuh rasa demi menjaga satu cinta ? Ya, cinta seseorang yang teramat dalam kepadaku. Walau kadang aku tak begitu yakin apakah cinta tersebut nantinya dapat membahagiakanku atau tidak. Karna seringkali ego berkuasa diantara rasa yang kau puja. Kasih, tidakkah kau sadari ? Rasaku perlahan menghilang karna emosi tak berbatas yang terus menghujam asa bak belati. Usahaku mencintamu seutuhnya kian memudar seiring luka yang terus kau torehkan.
Bagai boneka penghibur hati, ku mainkan seluruh peran dengan begitu apik dan teliti. Ku buat agar keadaan berjalan dengan semestinya. Tentu seperti yang kalian kehendaki. Meski tak dipungkiri lelah ini juga inginkan balasan. Janji bahagia serta kehidupan yang lebih baik di masa depan. Namun air mata perlahan mengalir menyiratkan sebuah jawaban. Seolah tak dapat menerima kenyataan atas jalan yang telah terlampau jauh ku tempuh. Mau apa lagi, semua telah terlanjur disepakati. Dan dimulailah peran baru yang semakin sulit untuk diakhiri.
Besok adalah hari penentuan, tiba saat dimana aku akan berbesar hati menerima semuanya. Cinta, janji setia, juga angan hidup bersama. Karna pertunangan bukan lagi sebuah rasa yang dapat dianggap sebagai suatu pemainan. Kusadari kita semakin bertambah tua. Sifat kekanak-kanakan yang kita miliki pun patut dihilangkan dan berganti dengan kedewasaan. Dewasa dalam artian tak ada lagi kekerasan, baik dalam perihal hati atau tindakan. Juga kontrol emosi, hendaknya dapat kita perbaiki.
Pada hakikatnya, semua permasalahan tergantung dari bagaimana cara diri kita sendiri mengatasinya. Meski juga tak terlepas dari kuasa Tuhan yang Maha Menentukan. Setidaknya kita harus berjuang sendirian untuk menemukan jalan keluar disetiap cobaan. Walaupun hasilnya tak seperti yang di harapkan. Aku selalu berusaha dan percaya, semua akan indah pada waktunya.
Kamis, 11 Desember 2014
Hati dan Gigi
Saat aku mulai beranjak dewasa dan telah merasakan bagaimana manis pahitnya cinta, kurasa aku mulai merubah pendapatku dulu. Bagaimanapun sulitnya mengobati sakit gigi, setidak-tidaknya ia memiliki obat yang pasti. sedang sakit hati, mengatasinya tak semudah yang ku bayangkan. Saat patah hati kita menjadi seseorang yang berbeda. Kita menjadi pembohong, bahkan terkadang menjadi seorang yang munafik barangkali. Seolah tak ada jalan keluar selain tersenyum dihadapan orang lain, itulah yang kucoba lakukan untuk menutupi luka hati. Bukan aku tak mencoba memperbaikinya, namun aku telah melakukan semuanya. Bersenang-senang, melakukan hobi, juga melampiaskan seluruh perasaan dengan tangisan. Akan tetapi, pedih hati tak kunjung jua terobati. Dan mau tak mau aku harus menikmatinya. Karna raga tak lagi mampu berbuat apa-apa.
Jumat, 05 Desember 2014
Hujan
Namun, kadang kala aku merasa semua ini hanya fantasi yang kuciptakan sendiri. Seperti fatamorgana yang kian lama membuatku gila. Sebab telah teramat jauh ku tambatkan hati ini padamu. Kasih, kau hadir bagaikan angin yang berhembus perlahan menyejukkan dan dalam sekejap pergi menghilang. Membuatku ingin menemukanmu kembali.
Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi. Aku terus menerus memikirkanmu. Masih saja kusesali apa yang telah terjadi. Juga tak kupungkiri jika semua ini memang salahku. Aku yang telah membawamu dalam rangkaian cerita cinta tak berkesudahan. Sehingga tercipta angan hidup bersama yang sejatinya bagai bom waktu yang siap menghancurkan.
Maafkan aku, hanya itulah yang dapat ku sampaikan padamu. Maafkan hati ini yang masih saja mengharapkanmu. Maafkan juga rasa ini yang masih tak rela melepaskanmu. Namun perlu kau tau, aku akan berusaha memperbaiki semuanya. Mencoba mengobati perih hati tanpa menuai luka yang baru, dan aku selalu berdoa demi keselamatanmu, juga berharap agar kelak kau temukan bahagia. Meski bukan bersamaku.