Kamis, 11 Desember 2014

Hati dan Gigi

"Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati ini.." itulah sebagian lirik dari salah satu lagu yang terkenal pada zamannya. Dulu aku sering menyangkal hal tersebut. Aku selalu berpendapat bahwa mengobati luka hati jauh lebih mudah yaitu dengan bersenang-senang bersama teman atau dengan melakukan hobi yang disukai. sedangkan jika ingin mengobati rasa sakit pada gigi jalur yang ditempuh lumayan sulit, ya dengan minum obat. huh, membayangkannya saja sudah membuatku bergidik.

Saat aku mulai beranjak dewasa dan telah merasakan bagaimana manis pahitnya cinta, kurasa aku mulai merubah pendapatku dulu. Bagaimanapun sulitnya mengobati sakit gigi, setidak-tidaknya ia memiliki obat yang pasti. sedang sakit hati, mengatasinya tak semudah yang ku bayangkan. Saat patah hati kita menjadi seseorang yang berbeda. Kita menjadi pembohong, bahkan terkadang menjadi seorang yang munafik barangkali. Seolah tak ada jalan keluar selain tersenyum dihadapan orang lain, itulah yang kucoba lakukan untuk menutupi luka hati. Bukan aku tak mencoba memperbaikinya, namun aku telah melakukan semuanya. Bersenang-senang, melakukan hobi, juga melampiaskan seluruh perasaan dengan tangisan. Akan tetapi, pedih hati tak kunjung jua terobati. Dan mau tak mau aku harus menikmatinya. Karna raga tak lagi mampu berbuat apa-apa.

Bagaimana mungkin seseorang dapat mencintai pria lain saat ia telah mempunyai kekasih. Kekasih yang sebentar lagi akan bertunangan dengannya. Mau dikata apa  lagi,memang begitulah cinta. Sungguh ironis bukan? Saat hati masih tak mampu berdamai dengan logika, waktu justru terus melaju seolah tak perduli dengan apa yang terjadi. Dan dengan angkuhnya ia meluluh lantakan ribuan angan dan jawaban dari penantian. Waktu memang tak pernah bersalah terhadap apapun, hanya manusialah yang tak dapat bijak mengendalikannya. Begitu juga perasaan yang membuatku terluka. Memang akulah yang tak sanggup untuk  menghentikannya.

Sebetulnya telah lama kekasihku memberikan sebuah cincin indah yang berkilau. Dia mengungkapkan perasaannya di depan banyak orang, sembari mengenakan cincin tersebut ke jari manisku. Kebetulan saat itu kami sedang melakukan suatu kegiatan organisasi. Dia juga telah satu kali berkunjung kerumahku. Bersama orang tuanya ia berniat untuk segera mengadakan acara pertunangan kami. Tetapi karna begitu mendadak setelah sempat sebelumnya tanggal yang kami tetapkan mengalami pembatalan, Ayahku memutuskan untuk menundanya. Dan itu terjadi sekitar satu bulan yang lalu. 

Tak kusadari hari begitu cepat berlalu, tiba saatnya bagiku untuk mengikat satu hati untuknya. Tentu untuk kekasihku. Jelang beberapa hari lagi, kami akan segera melangsungkan acara pertunangan. Entahlah, apa aku harus merasa bahagia atau merasa sedih. Aku senang melihat orang tuaku bahagia karna berfikir aku sudah dewasa dan telah memilih calon pasangan yang tepat. Tetapi aku juga sedih ketika menatap kembali kejujuran rasa dalam kalbu. Mampukah aku mencintainya seperti aku mencintaimu ? Tak taukah kau bagaimana sulitnya aku menghentikan rasaku ini untukmu? Ah sudahlah. Toh kau juga takkan mengerti. Kita biarkan saja ini semua berjalan dengan semestinya. 

Aku akan berusaha agar tak lagi mengusik kehidupanmu. Berusaha mengendalikan setiap rasa yang tumbuh dalam benak dan relung hati. Namun, biarkanlah aku untuk tetap berkhayal bersama semua tulisan yang ku hias dalam duka, biarkan aku menyelesaikan semua yang telah kumulai. Hingga kelak aku dapat menemukan akhir dari kisah panjang berbalut angan dan kenangan. Semoga saja penyesalan takkan menghampiri kita. Ya, semoga semua ini berujung bahagia.

1 komentar:

  1. Yang ini menyentuh banget mba, terus berkarya dan sukses buat masa depannya :)

    BalasHapus