Semua masih nampak sama, tak banyak yang berubah. Hari demi hari berlalu begitu saja. Entah karena kini kesibukan hampir menguasai seluruh waktu yang kumiliki atau justru akulah yang terlalu lelah untuk menghiraukan waktu. Sekarang tak banyak kesempatan untuk bersenandung menikmati indahnya langit, bahkan sulit untuk sekedar melihat potret dirimu dalam tempat khusus yang ku simpan dengan apik. Bukan hal yang baru untukku bergegas menjalankan kewajiban di pagi hari hingga gelapnya langit malam mengisyaratkan untuk menyudahi letih. Setibanya di surga kecilku dengan cepat tubuh ini terhempas tak berdaya. Melelahkan memang saat kita dituntut untuk bisa memenuhi semua keinginan pimpinan, tetapi dilain sisi justru karna kesibukan yang dihadapi ini membuat aku dan juga mereka semakin dekat, kami memang melewatkan banyak hal, seperti jam makan siang atau waktu tidur, namun kami selalu dapat mengatasi itu semua, ditambah canda tawa sebagai alat pengganti ego dan emosi, kami mampu melakukan hal yang dianggap tak mungkin sekalipun.
Tak terasa tiba saat dimana aku harus meninggalkan semuanya. Pekerjaan, teman, dan juga kau. Mengapa demikian? karna pada hakikatnya manusia terus bergerak maju menjalani kehidupan. Seseorang akan menikah, memiliki keturunan, dan juga menua. Dan sekarang telah tiba giliranku untuk menempuh jalan itu. Menutup cerita lama dalam sampul kenangan, lalu memulai lembaran baru dalam sebuah buku bertuliskan masa depan. Semoga Tuhan selalu menjaga kita semua. Dan semoga babak baru dalam kehidupan kita dapat berujung bahagia.