"Sungguh sulit untuk memulai sesuatu, namun sangatlah mudah untuk mengakhirinya" itulah yang kau ucapkan. Dan ternyata memang benar adanya. Terkadang tak mudah bagiku untuk melukiskan awal dari cerita kita. Karna tiap puing kenangan sukar untuk disatukan. Begitu banyak waktu terlewatkan terbuang dengan percuma. Sebab hati masih saja menyangkal akan kenyataan yang ada. Hari demi hari berlalu dan kita berdua kian membentangkan jarak. Seolah berada di dua dunia yang berbeda. Ketika kau menyaksikan indahnya rembulan, aku justru tengah menikmati sinar mentari menyapa pagi. Bahkan sekedar menatapmu pun kini telah menjadi suatu hal yang mustahil.
Lalu aku teringat akan sesuatu kejadian semasa sekolah dulu. Dimana untuk pertama kalinya aku memberanikan diri mengecup pipimu. Tentu saja aku malu bukan kepayang. Mulanya hanya sekedar ingin bercanda. Tetapi malah terjadi sungguhan. "Apa kau tahu akan satu hal?" ucapku. "Apa itu?" jawabmu. Lalu aku tersenyum dan kembali berkata "berjanjilah untuk tidak memberitahukan hal ini kepada siapapun. Cukup kita berdua yang tahu." kau tertawa kecil sembari menganggukkan kepala tanda setuju. Hatiku berdegup kencang. Rasanya seperti lari 5 putaran keliling satu sekolah. Kemudian perlahan aku mendekat. Berbisik ditelingamu dan berkata "Aku.... Sayang.. Kamu" lalu tanpa sadar aku mengecup pipimu. Seketika kedua pipiku memerah. Agar tak terlihat olehmu, aku bergegas beranjak dari tempat duduk dan ingin berlari. Namun nampaknya kau tak membiarkanku lolos begitu saja. Kau genggam tanganku. Mencoba menahan, akan tetapi aku berhasil melepaskan diri. Dan aku berlari pergi.
Esok hari, setibanya di sekolah. Aku telah mempersiapkan diri untuk menerima kemarahanmu. Namun diluar dugaan, kau tersenyum dan berkata "mengapa kemarin kau berlari? Padahal ada yang ingin ku sampaikan padamu". Aku tertegun hingga tak dapat berkata apapun dan kau tertawa melihat tingkah lakuku. Kutepuk pundakmu sambil tersipu malu. Aku selalu saja tersenyum jika mengingat hal tersebut. Akan tetapi, tak berapa lama kemudian aku tersadar. Bagaimanapun juga semua itu hanya kenangan. Ya, Aku hanyalah sebagian kecil dari masa lalumu. Bagai Seseorang yang mendekap erat rindunya. Berharap agar tak satupun makhluk dimuka bumi ini yang dapat mengetahui isi hatinya, perasaannya yang sesungguhnya.
Entah apa yang harus kulakukan. Entah apa lagi yang harus kuperbuat. Saat kucoba lupakanmu dengan mendustakan segala kerinduan, justru lukalah yang kudapat. Lantas bagaimanakah seharusnya? Selalu tak ada jawab dari tanyaku. Seakan menemukan titik beku disetiap jalan berliku. Tak jua kusesali ribuan hariku bersamamu. Baik yang terukir indah maupun yang tlah menggores luka. Yakin pada rencana Yang Maha Esa. Karna apa yang menurutku baik, bisa saja sebenarnya teramat buruk bagiku, dan apa yang menurutku buruk, mungkin sebetulnya amat baik untukku. Setidaknya, sebelum kita mencoba memusnahkan seluruh rasa, kita pernah mencoba mempertahankan segalanya dengan satu alasan yang sama. Yakni karna kita saling mencinta.