Rabu, 25 Maret 2015

Kau adalah yang terbaik yang tak pernah ku miliki

Beberapa waktu yang lalu dia dan aku kembali bertemu. Jujur saja aku telah lama menantikan hal ini. Tentu karna rasa yang bersemayam dalam dada ingin segera menampakkan wujudnya. Setelah lebih kurang lima belas menit menunggu, akhirnya Ia pun tiba di depan kantor tempat aku bekerja. Dengan mengenakan baju kaos berwarna merah dilapisi jaket hitam Ia menghampiriku yang tengah berdiri persis di depan pagar. Aku tersenyum sambil memberikan sebuah usb yang berisikan film. "Ini film yang bagus. Kau akan menyesal jika tak menontonnya" ucapku sedikit memaksa. "Ah,yang benar? memang film ini tentang apa?" ucapnya yang mulai merasa penasaran. "Lihat saja sendiri. Disana  ada satu lagu yang sangat kusukai" jawabku. "Baiklah. Aku akan pulang. Sampai jumpa besok” Ia tertawa kecil seolah mengisyaratkan sesuatu. “Berhati-hatilah dalam perjalanan pulang" Ucapku menyudahi percakapan diantara kami. Dan Ia pun perlahan pergi hingga tak terlihat lagi. Meski hanya sebuah pertemuan singkat dengan alasan sederhana yang ku buat. Kurasa itu sudah lebih dari cukup. Ah, Siapa yang tak tau cinta. Bahkan hal kecil pun dapat menjadi sesuatu yang istimewa.

Setelah kejadian tersebut, kami menjadi lebih sering mengirimkan pesan singkat. Kami kembali dekat, kembali memberikan perhatian satu sama lain. Sama seperti saat masih menjalin suatu hubungan yang sebenarnya tak pernah ada. Lucu memang, dimana kami berada dalam sebuah ketidak pastian yang memberikan rasa nyaman. Lalu akhirnya setelah berbasa-basi, Aku sepakat untuk menonton film itu bersamanya. Sekaligus Ia ingin mengembalikan usb milikku. Dan keesokan harinya tepat jam sepuluh pagi aku tiba didepan rumah lelaki jangkung tersebut. Suasana nampak sepi. Hanya ada dia, adik serta bibinya. “Ibu pergi kemana?” Tanyaku mencoba mencairkan suasana. “Ibu sedang ada urusan diluar.” Jawabnya dengan senyum yang tak pernah berubah. “Oh. Iya iya” Akupun mengangguk tanda mengerti. “Aku ingin menunjukan sesuatu padamu. Agar tak ada salah paham” Ia berucap meyakinkan. Lalu Ia mulai menampilkan riwayat percakapan dengan salah seorang perempuan yang dulu pernah dekat dengannya. Sebetulnya Aku agak cemburu, tetapi Aku berusaha menghargai kejujurannya. Terlihat pula sedikit banyaknya Ia masih memberikan perhatian terhadap gadis itu. “Ayo langsung saja kita lihat filmnya. Aku sudah tak sabar” Ucapku mengalihkan pembicaraan. “Hm, yasudah. Tapi Kamu jangan marah” Ucapnya berusaha membujuk. “Iya” Aku pun tersenyum tipis.

Setengah jam berlalu, kami begitu serius memperhatikan film tersebut. Namun sesekali Aku menoleh kepadanya. Mengamati wajah yang selama ini selalu kurindukan. Tak jarang pula aku tersentak ketika Ia tiba-tiba menatap ke arahku. Pipiku memerah, malu menahan rasa  yang terus menggoyahkan pikiran. “Aku tak begitu mengerti dengan film ini. Terlalu banyak tokoh yang berbicara.” Ucapnya memecah keheningan diantara kami. “Sebetulnya film ini tentang teman dekat yang berjanji untuk tetap berhubungan walaupun mereka sekarang tinggal berjauhan. Sekelompok kawan lama yang kembali bertemu di acara reuni sekolah. Dan juga sebuah pertemuan yang membawa cinta lama kembali kehadapan mereka.” Aku mencoba menuturkan padanya. “Oh, Begitu. Jadi bagian mana yang menurutmu menarik?” Ucapnya dengan sedikit mencondongkan badan. “Mari Kita percepat” dan akupun mencari bagian yang ingin kutunjukkan. “Ini dia” Aku tersenyum sambil menatap matanya.

You came close enough to know my heart beat
But still not close enough for me..
Through the good times and the bad
You were the best I never had
The only chance I wish I had to take
But there was no writing on the wall
No warning signs to follow
I know now and I just can't forget
You’re the best I never had

Seketika Ia tertegun, mungkin Ia sedang menerka apa yang aku pikirkan. “Apa kau ingin mencoba ini? bukalah mulutmu” Ia pun mengambil sepotong kue dan menyuapkannya padaku. Lalu saat aku mendekat, Ia mengecup keningku pelan. Aku hanya terdiam, tak mampu berkata  apapun. Ku dekap erat tubuhnya.  Seolah tak ingin kehilangan. Ingin aku mengakui, bahwa aku tak mampu berpaling. Tak perduli seberapa keras aku berusaha.  Tetap saja aku ingin kembali dalam dekapan hangatnya. “Kali ini aku takkan pergi lagi. Aku tak akan melepaskanmu” Ucapku perlahan setengah berbisik. “Aku juga” Ucapnya sembari membelai lembut rambutku. Lalu kami pun larut dan terbuai. Seolah dinding pemisah yang selama ini menghalangi tiba-tiba saja menghilang. Sejenak terlupa keletihan hati atas ribuan dusta yang tercipta. Aku menyadari betapa naifnya diriku selama ini yang menganggap menyembunyikan perasaan hingga rasa tersebut memudar adalah jalan terbaik. Oh Tuhan, Maafkan aku. Maafkan aku karena telah ingkar kepadaMu. Aku sunguh sangat menyukainya. Tak bisakah Engkau pertahankan dia agar tetap disisiku? Hingga aku benar-benar siap untuk melepaskannya. Ku akui bahwa aku memang jahat, namun sekali ini saja. Sebab aku begitu menginginkannya.