Beberapa waktu yang lalu dia dan
aku kembali bertemu. Jujur saja aku telah lama menantikan hal ini. Tentu karna
rasa yang bersemayam dalam dada ingin segera menampakkan wujudnya. Setelah
lebih kurang lima belas menit menunggu, akhirnya Ia pun tiba di depan kantor
tempat aku bekerja. Dengan mengenakan baju kaos berwarna merah dilapisi jaket
hitam Ia menghampiriku yang tengah berdiri persis di depan pagar. Aku tersenyum
sambil memberikan sebuah usb yang berisikan film. "Ini film yang bagus.
Kau akan menyesal jika tak menontonnya" ucapku sedikit memaksa.
"Ah,yang benar? memang film ini tentang apa?" ucapnya yang mulai
merasa penasaran. "Lihat saja sendiri. Disana ada satu lagu yang
sangat kusukai" jawabku. "Baiklah. Aku akan pulang. Sampai jumpa
besok” Ia tertawa kecil seolah mengisyaratkan sesuatu. “Berhati-hatilah dalam
perjalanan pulang" Ucapku menyudahi percakapan diantara kami. Dan Ia pun
perlahan pergi hingga tak terlihat lagi. Meski hanya sebuah pertemuan singkat
dengan alasan sederhana yang ku buat. Kurasa itu sudah lebih dari cukup. Ah,
Siapa yang tak tau cinta. Bahkan hal kecil pun dapat menjadi sesuatu yang
istimewa.
Setelah kejadian tersebut, kami
menjadi lebih sering mengirimkan pesan singkat. Kami kembali dekat, kembali
memberikan perhatian satu sama lain. Sama seperti saat masih menjalin suatu
hubungan yang sebenarnya tak pernah ada. Lucu memang, dimana kami berada dalam
sebuah ketidak pastian yang memberikan rasa nyaman. Lalu akhirnya setelah
berbasa-basi, Aku sepakat untuk menonton film itu bersamanya. Sekaligus Ia
ingin mengembalikan usb milikku. Dan keesokan harinya tepat jam sepuluh pagi
aku tiba didepan rumah lelaki jangkung tersebut. Suasana nampak sepi. Hanya ada
dia, adik serta bibinya. “Ibu pergi kemana?” Tanyaku mencoba mencairkan
suasana. “Ibu sedang ada urusan diluar.” Jawabnya dengan senyum yang tak pernah
berubah. “Oh. Iya iya” Akupun mengangguk tanda mengerti. “Aku ingin menunjukan
sesuatu padamu. Agar tak ada salah paham” Ia berucap meyakinkan. Lalu Ia mulai
menampilkan riwayat percakapan dengan salah seorang perempuan yang dulu pernah
dekat dengannya. Sebetulnya Aku agak cemburu, tetapi Aku berusaha menghargai
kejujurannya. Terlihat pula sedikit banyaknya Ia masih memberikan perhatian
terhadap gadis itu. “Ayo langsung saja kita lihat filmnya. Aku sudah tak sabar”
Ucapku mengalihkan pembicaraan. “Hm, yasudah. Tapi Kamu jangan marah” Ucapnya
berusaha membujuk. “Iya” Aku pun tersenyum tipis.
Setengah jam berlalu, kami
begitu serius memperhatikan film tersebut. Namun sesekali Aku menoleh
kepadanya. Mengamati wajah yang selama ini selalu kurindukan. Tak jarang pula
aku tersentak ketika Ia tiba-tiba menatap ke arahku. Pipiku memerah, malu
menahan rasa yang terus menggoyahkan pikiran. “Aku tak begitu mengerti
dengan film ini. Terlalu banyak tokoh yang berbicara.” Ucapnya memecah
keheningan diantara kami. “Sebetulnya film ini tentang teman dekat yang
berjanji untuk tetap berhubungan walaupun mereka sekarang tinggal berjauhan.
Sekelompok kawan lama yang kembali bertemu di acara reuni sekolah. Dan juga
sebuah pertemuan yang membawa cinta lama kembali kehadapan mereka.” Aku mencoba
menuturkan padanya. “Oh, Begitu. Jadi bagian mana yang menurutmu menarik?”
Ucapnya dengan sedikit mencondongkan badan. “Mari Kita percepat” dan akupun
mencari bagian yang ingin kutunjukkan. “Ini dia” Aku tersenyum sambil menatap
matanya.
You came close enough
to know my heart beat
But still not close enough for me..
Through the good times and the bad
You were the best I never had
The only chance I wish I had to take
But there was no writing on the wall
No warning signs to follow
I know now and I just can't forget
You’re the best I never had
But still not close enough for me..
Through the good times and the bad
You were the best I never had
The only chance I wish I had to take
But there was no writing on the wall
No warning signs to follow
I know now and I just can't forget
You’re the best I never had
Seketika Ia tertegun, mungkin Ia
sedang menerka apa yang aku pikirkan. “Apa kau ingin mencoba ini? bukalah
mulutmu” Ia pun mengambil sepotong kue dan menyuapkannya padaku. Lalu saat aku
mendekat, Ia mengecup keningku pelan. Aku hanya terdiam, tak mampu
berkata apapun. Ku dekap erat tubuhnya. Seolah tak ingin
kehilangan. Ingin aku mengakui, bahwa aku tak mampu berpaling. Tak perduli
seberapa keras aku berusaha. Tetap saja aku ingin kembali dalam dekapan
hangatnya. “Kali ini aku takkan pergi lagi. Aku tak akan melepaskanmu” Ucapku
perlahan setengah berbisik. “Aku juga” Ucapnya sembari membelai lembut
rambutku. Lalu kami pun larut dan terbuai. Seolah dinding pemisah yang selama
ini menghalangi tiba-tiba saja menghilang. Sejenak terlupa keletihan hati atas
ribuan dusta yang tercipta. Aku menyadari betapa naifnya diriku selama ini yang
menganggap menyembunyikan perasaan hingga rasa tersebut memudar adalah jalan
terbaik. Oh Tuhan, Maafkan aku. Maafkan aku karena telah ingkar kepadaMu. Aku
sunguh sangat menyukainya. Tak bisakah Engkau pertahankan dia agar tetap
disisiku? Hingga aku benar-benar siap untuk melepaskannya. Ku akui bahwa aku memang
jahat, namun sekali ini saja. Sebab aku begitu menginginkannya.