Sebuah kebenaran dapat diibaratkan bagai teriknya
sinar matahari. Begitu menyilaukan hingga sebagian orang tak sanggup
untuk melihatnya. Dan itulah yang sedang ku rasakan sekarang. Aku masih
tak sanggup menerima kenyataan bahwa kau telah menaruh hati kepada orang lain.
Tentu tak sepantasnya aku berkata demikian. Mungkin orang lain akan
mengganggapku gila, karna aku masih saja memperdulikanmu. Yayaya, aku memang
seorang yang tak sadar diri bukan? begitu maksudmu? Sudah jelas berjanji
menjaga satu hati pada sang kekasih namun nyatanya masih tak dapat
menepati.
Perihal kenyataan yang baru kuketahui, entahlah..
aku juga tak dapat mengerti. Mengapa aku harus mencemburuimu, mengapa juga aku
harus mengetahui kembali kehidupanmu. Toh tak ada alasan lagi untukku melakukan
semua itu. Aku juga tak inginkan hal ini terjadi. Akan tetapi Tuhan rupanya
begitu mencintaiku, sehingga menampakkan bagaimana hati yang dulu sering kau
bilang tak dapat beralih dengan mudah tersebut nyatanya justru berlaku
sebaliknya. Tentu ini bukan salahmu. Wajar jika seseorang yang merasa terluka
akan menambatkan hati kembali kepada orang yang baru. Hanya saja aku begitu
takjub. Sebegitu cepatkah kau menghilangkan rasa itu ? Nampaknya kau telah
begitu lelah. Yah, aku juga begitu lelah menjalani ini semua.
Kemudian
aku teringat akan hal yang pernah kita lakukan dulu. Ketika kita menjalani
suatu hubungan yang kau sebut sebagai 'friendzone', dimana kita saling mencinta
namun malah terjebak dalam sebuah ikatan pertemanan. Kita seringkali berdebat
dan aku selalu berkata "cukup sudah. Kita akhiri semuanya sampai
disini". Namun sebenarnya tahukah kau mengapa aku berani berkata begitu?
Karna aku tahu, kau takkan mungkin menjauh dariku. Karna aku yakin, kau akan
kembali dalam dekapanku. Namun, ada satu hal yang terlewatkan saat itu.
Yakni pertanyaan tentang sampai dimanakah kau akan terus mengiringi langkahku.
Dan terjawab sudah. Mungkin inilah langkah terakhirmu disisiku.
Dalam
hidup, kita akan dipertemukan dengan beberapa orang yang salah hingga akhirnya
bertemu dengan orang yang tepat. Mengapa harus seperti itu? Karna Tuhan
inginkan kita belajar dari setiap kejadian. Bukan berarti aku menganggapmu sebagai
orang yang salah. Tidak, sama sekali tidak. Tak pantas untuk orang yang jauh
dari kesempurnaan sepertiku dapat beranggapan demikian. Aku hanya mencoba
menjawab setiap tanya dalam benak yang terus mengusik ketenangan batin. Mencari
titik temu untuk selesaikan setiap ujian kehidupan. Apakah hanya aku yang
berpikir perkara mengubah rasa sebegitu sulitnya? Atau kau yang memiliki
keahlian sehingga mampu membolak-balikan hati seperti menjentikan jari?
Kini aku sadar perihal kehilangan yang
sesungguhnya. Hilang berarti lenyap seketika. Walaupun kembali, sudah tak
mungkin utuh seperti sedia kala. Mungkin rasamu telah mati untukku, namun
setidaknya aku pernah menjadi seorang yang begitu berarti dalam kehidupanmu. Meski
dapat dikatakan jalinan kasih kita tak berjalan mulus, juga penuh dengan ujian
yang bertubi-tubi. Aku tetap bersyukur pernah memiliki hatimu. Terima kasih
banyak untuk segalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar