"Bagaimana jika kita mencintai seseorang yang tak dapat dimiliki ?
Maka orang tersebut akan ku ibaratkan seperti kotak hadiah. Hanya sebagai
rasa terima kasih jika aku membukanya satu kali. Jika kotak tersebut datang lagi, maka semuanya akan terus berulang. Jika aku kembali membukanya untuk yg kedua kali, maka itu adalah kesedihan. Lalu yang ketiga kali adalah luka, Dan setelah terbuka lagi dan lagi sampai menjadi hancur, maka seperti itulah bagaimana satu hati menjadi terkoyak. Dan aku membiarkannya hingga tidak terasa sakit lagi."
Dihari yang lalu, kami kembali berpisah. Lagi dan lagi. Seolah ketakutan telah mengambil alih semua logika. Ya, aku dan dia sempat berusaha menyudahi segalanya untuk yang kesekian kalinya. Akan tetapi, bagai air yang mengalir, seperti siklus alam ketika hujan turun membasahi bumi, kemudian menguap dipermukaan lautan, menjadi gumpalan awan, hingga awan tersebut menjadi butiran air yang jatuh kembali menyapa bumi. Begitulah bagaimana hati ini luluh dengan ribuan cara tak terduga untuk menyatukan kepingan kenangan. Sekali lagi aku membiarkannya masuk dalam kehidupanku.
Meski aku mengetahui hal ini tak akan bertahan lama, aku mencoba untuk menikmatinya. Pikirku, tak terlalu buruk jika mencoba menjalin suatu pertemanan. Karena aku mengenalnya secara baik-baik, toh tak ada alasan hingga aku harus mengakhiri semuanya secara buruk. Namun, tak ada perpisahan yang berjalan mulus bukan? Sedikit banyaknya mereka akan meninggalkan goresan kecil dalam memori. Memang, ada segelintir orang yang dapat mengatasinya secara bijak. Yah, sebetulnya kalau boleh jujur. Aku masih menjalin hubungan baik dengan beberapa orang di masa lalu. Entah hanya untuk sekedar bertegur sapa saat berpapasan atau saling bercerita tentang kehidupan yang dijalani. Meskipun tak dipungkiri kami pernah begitu membenci satu sama lain. Namun seiring waktu, justru sebab keterbiasaan, rasa sakit yang semula begitu menyesakkan pun perlahan menjadi samar hingga pergi tanpa perlu diminta. Akankah kita juga dapat berlaku demikian? Sebentar, biar kutebak. Kau pasti akan bilang "tentu". Benarkan?
Saat kita saling mengirim pesan singkat, ada satu pesan darimu yang begitu ku ingat. Yakni perihal takaran hubungan antara kita. Kau berujar seandainya aku adalah teh dan kau gula. Tentu jika gula dimasukkan terlalu banyak maka rasa teh tersebut menjadi tak enak. Dan kau merasa hanya sebatas inilah kemampuanmu. Tidak kurang tidak lebih. Rupanya kau salah mengartikan sikapku. Sama sekali aku tidak menuntutmu lebih jauh dari ini. Hanya saja, aku ingin menegaskan bahwa tak selamanya kita begini. Meski ku bilang ingin menikmatinya, namun mengagungkan pertemanan sebagai landasan dibalik perasaan tersembunyi adalah hal yang tak sepatutnya kita lakukan secara terus menerus. Aku telah kehabisan cara. Hanya dapat diam terpaku menyaksikan jalan yang kita tempuh menuju jurang kehancuran. Aku ingin berhenti, membalikkan arah dan membawamu pergi. Tetapi langkah ini menolak dan tetap melaju dengan angkuhnya.
Alih-alih membiasakan diri hingga rasa tersebut pergi dengan sendirinya, yang terjadi justru perasaan ini kian kuat. Kini aku sudah tak dapat membedakan mana yang benar dan yang salah. Jika saja, andai saja, kalian berdua adalah satu. Pasti tak akan sesulit ini. Aku menginginkanmu tetapi aku juga tak dapat meninggalkannya. Egois memang. Setengah hatiku milikmu, dan setengahnya lagi ada dalam genggaman erat lelaki itu. Dan cobalah tebak apa yang terjadi. Ya, Aku kembali menyudahi segalanya. Mengakhiri semua angan dengan seseorang yang selama ini hanya ada dalam bayangan. Aku memilih untuk melepaskanmu. Sebelum aku berani mengambil langkah ini, terlebih dahulu kutelurusi semua hal tentangmu. Tentang semua teman perempuan yang dekat denganmu. Meski ini cukup berlebihan, namun setidaknya aku merasa lega karna mengetahui kau akan baik-baik saja tanpa kehadiranku. Dan kupastikan, perpisahan ini adalah yang terakhir kalinya.
Lalu tak berapa lama kemudian aku jatuh sakit, saat itu yang yang terpikirkan hanyalah dirimu. Entahlah, aku masih saja berandai jika saja kau dapat menemaniku disini. Walau hanya sekedar menjagaku dalam perjalanan berobat. Dan keajaiban pun muncul, keesokan harinya ku dengar kau menanyakan kabar tentangku kepada seorang teman. Apakah aku baik-baik saja atau tidak. Padahal kita tak pernah menjalin komunikasi sejak terakhir kali aku memintamu untuk berhenti. Sempat terpikir dalam benak apa mungkin kau merasakan hal yang kurasa. Seperti seseorang yang memiliki firasat terhadap orang tertentu. Seketika aku tersadar dari lamunan. Bagai lelucon yang tak lucu. Mungkin akulah yang terlalu banyak menuai harap.
Pada akhirnya aku memahami satu hal. Bahwa selalu ada sebab tak terduga untuk menyatukan atau memisahkan seseorang. Bagaimanapun juga, rahasia dapat tergesa khianat pada waktu. Oleh sebab itu, aku memilih untuk membuat akhir dari cerita ini. Dengan beberapa taburan kenangan dan satu sendok luka, maka terwujudlah bingkai masa lalu. Kemudian ku letakkan dalam sebuah kotak hadiah, yang nantinya sesekali akan ku buka, untuk memastikan apakah kebahagian yang ku dapat telah melampaui kesedihan yang tercipta. Dan juga untuk meyakinkan diri, bahwa kelak semua sudah tak terasa menyakitkan lagi.
Ngena banget sama lagu yang ini mba
BalasHapushttp://www.youtube.com/watch?v=yEAtPLxtNUU&feature=youtube_gdata_player